Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB sedang memberikan materi kepada pelajar di Kabupaten Dompu terkait dengan literasi keuangan.
SUASANA Aula Pendopo Bupati Dompu, Kamis (11/6/2026), tampak berbeda dari biasanya. Puluhan pasang mata pelajar dari berbagai sekolah menengah atas di Kabupaten Dompu terlihat serius mengikuti setiap materi yang disampaikan narasumber.
Di antara mereka, duduk seorang siswa SMAN 1 Woja bernama Briliansyah Ilman. Sesekali ia mencatat poin-poin penting yang disampaikan pemateri.
Bagi Briliansyah, kegiatan yang digelar Bank Indonesia (BI) Perwakilan Nusa Tenggara Barat bersama Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Dompu itu bukan sekadar seminar biasa.
Hari itu, ia belajar tentang sesuatu yang selama ini selalu ada di tangannya, tetapi jarang dipahami maknanya secara mendalam. Rupiah.
“Saya baru memahami bahwa Rupiah bukan hanya uang yang kita gunakan setiap hari, tetapi juga simbol kedaulatan bangsa yang harus dijaga dan dihargai,” ujar Briliansyah.
Pemahaman itu diperoleh melalui Sosialisasi Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah dan Kesehatan Reproduksi yang digagas Bank Indonesia NTB. Kegiatan tersebut mengusung tema “Remaja Sehat, Cerdas Finansial, dan Berkarakter”.
Bagi Bank Indonesia, membangun ekonomi yang kuat tidak hanya dilakukan melalui kebijakan moneter atau pengendalian inflasi. Di balik itu, terdapat pekerjaan besar yang tak kalah penting, yakni membangun kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, tentang pentingnya Rupiah dan pengelolaan keuangan yang sehat.
Deputi Kepala Bank Indonesia Perwakilan NTB, Ignasius Adhi Nugroho, menegaskan bahwa program CBP Rupiah merupakan gerakan nasional yang bertujuan memperkuat kecintaan masyarakat terhadap mata uang Indonesia.
Menurutnya, Rupiah memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar alat transaksi.
“Rupiah adalah identitas bangsa. Karena itu masyarakat perlu menggunakan Rupiah dalam setiap transaksi di wilayah Indonesia serta memahami pentingnya menjaga kestabilan nilai Rupiah,” kata Ignasius.
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perkembangan teknologi keuangan, Ignasius menilai literasi keuangan menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Generasi muda harus dibekali kemampuan mengelola keuangan sejak dini agar mampu mengambil keputusan ekonomi yang tepat di masa depan.
Karena itu, Bank Indonesia terus memperluas jangkauan edukasi hingga ke sekolah-sekolah dan komunitas masyarakat.
“Kami ingin generasi muda tidak hanya mengenal Rupiah, tetapi juga memahami bagaimana mengelola keuangan secara bijak, menabung, merencanakan masa depan, dan menjadi masyarakat yang bertanggung jawab secara finansial,” ujarnya.
Menariknya, dalam kegiatan di Dompu tersebut, edukasi tentang Rupiah tidak berdiri sendiri.
Bank Indonesia memilih berkolaborasi dengan DPPKB Kabupaten Dompu dengan menggabungkan materi literasi keuangan dan kesehatan reproduksi dalam satu forum.
Pendekatan itu bukan tanpa alasan. Bagi Bank Indonesia, kualitas sumber daya manusia merupakan fondasi utama pembangunan ekonomi jangka panjang.
Generasi yang sehat akan lebih siap menerima pendidikan, mengembangkan keterampilan, dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah maupun nasional.
Kepala DPPKB Kabupaten Dompu, Hj. Daryati Kustilawati, menilai kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.
“Remaja tidak hanya membutuhkan pemahaman tentang kesehatan reproduksi, tetapi juga kemampuan mengelola keuangan dan mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupannya,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) Kabupaten Dompu, Suryati. Menurutnya, penggabungan dua materi tersebut menjadi pendekatan yang sangat relevan dengan kebutuhan remaja masa kini.
“Kegiatan ini menyentuh dua aspek penting sekaligus. Remaja yang sehat dan memiliki kecerdasan finansial akan lebih siap menghadapi masa depan serta terhindar dari berbagai risiko sosial,” katanya.
Di dalam ruangan, para peserta tampak serius mendengarkan materi. Bagi Briliansyah, pengalaman mengikuti kegiatan tersebut menjadi pelajaran yang tidak didapatkan setiap hari di ruang kelas.
Ia mengaku termotivasi untuk mulai lebih disiplin mengatur pengeluaran dan menyisihkan sebagian uang sakunya untuk ditabung.
“Materi dari Bank Indonesia sangat bermanfaat. Kami jadi paham bahwa mengelola uang itu penting untuk masa depan, bukan hanya untuk kebutuhan hari ini,” tuturnya.
Di sisi lain, Wakil Bupati Dompu Syirajuddin memberikan apresiasi atas komitmen Bank Indonesia NTB yang terus hadir mendukung pembangunan sumber daya manusia di daerah.
Menurutnya, literasi keuangan merupakan bagian penting dalam menyiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks.
“Kolaborasi seperti ini sangat dibutuhkan dan harus terus diperluas karena manfaatnya langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Bagi Bank Indonesia NTB, kegiatan di Dompu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun pesan yang ditanamkan di dalamnya memiliki dampak jangka panjang.
Ketika seorang remaja mulai memahami pentingnya menabung, menghargai Rupiah, dan merencanakan masa depan dengan baik, sesungguhnya sebuah investasi besar sedang dibangun.
Investasi itu bukan berupa gedung atau infrastruktur fisik, melainkan investasi pada manusia.
Dan dari Aula Pendopo Bupati Dompu hari itu, Bank Indonesia NTB sedang menanam benih-benih kesadaran tersebut kepada generasi yang kelak akan menentukan masa depan daerah, bahkan masa depan bangsa. (*)










